Home Uncategorized VIRAL Fenomena Flare Rainbow Terjadi di Kabupaten Karanganyar, Begini Penjelasan BMKG

VIRAL Fenomena Flare Rainbow Terjadi di Kabupaten Karanganyar, Begini Penjelasan BMKG

147
0
VIRAL Fenomena Flare Rainbow Terjadi di Kabupaten Karanganyar, Begini Penjelasan BMKG

Indozola – Dunia media sosial dihebohkan dengan fenomena alam pelangi yang mumcul di atas awan yang diduga terjadi di Kabupaten Karanganyar.

Fenomena tersebut diketahui pertama kali di unggah oleh akun @iks_inforesidenansolo.

Dalam postingan tersebut berupa video beberapa detik yang memperlihatkan kumpulan awan.

Uniknya, dibagian unung terdapat gradasi warna yang warnet asumsikan sebagai pelangi.

“Fenomena alam, langit daerah kerjo Karanganyar tadi pukul 15:00 WIB,” @iks_infoaresidenansolo.

Postingan tersebut sudah dilihat sebanyak 32 ribu kali ini dan warganet pun turut berkomentar, ada yang kagum dengan fenomena tersebut.

“Itu namanya pelangi api, kristal es/ titik air yang membiaskan cahaya matahari,” tulis akun @lathifffauzi.

“Rainbow Fire,” komentar lain dari akun @triawibowo21.

“Pelangi di atas awan so sweet,” tulis akun @aliyapoetry.

Tapi ada pula yang menanggapi dengan komentar lelucon.

“Rumahnya unicorn itu,” komentar dari @annastasyar.

“Alien lagi kopdar,” ungkap akun bernama @bayuubayarya.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Semarang, Lis Widya Harmoko menerangkan jika fenomena itu disebut circumhorizontal arc atau lengkugan sirkumhorizontal.

“Ada yang menyebut fenomena ini pelangi api atau flare rainbow,” jelas Lis.

Lis mengungkapkan jika fenomena circumhorizontal sangat jarang terjadi, seperti fenomena pelagi yang mengegelingi matahari atau halo matahari.

“Fenomena yang cukup langka sih sebenarnya,” katanya.

Lis melanjutkan fonemena tersebut bermula dari awan konvektif jenis cumulus yang mengandung uap air.

Sedangkan pelangi terbentuk karena fenomena optis berupa pembiasan sinar matahari dari uap air yang berada di sekitar awan tersebut.

“Terbentuk karena pembiasan kristal es di awan-awan yang tinggi.

“Karena biasanya awan konvetif bisa menjulang tinggi sekali,” ungkap Lis.

Sedangkan circumhorizontal merupakan fenomena optik yang dimiliki oleh keluarga es lingkaran cahaya yang dibentuk oleh pembiasan sinar matahari atau cahaya bulan di piring berbentuk kristal es tergantung di atmosfir, biasanya dalam cirrue atau cirrostratus awan.

Dalam bentuk penuhnya, busur memiliki penampilan pita berwarna spektrum besar yang cerah ( merah menjadi warna paling atas ) yang berjalan sejajar dengan cakrawala yang terletak jauh dibawa matahari atau bulan.

Jarak antara busur dan matahari atau bulan adalah dua kali lebih jauh dari lingkaran 22 derajat yang umum.

Seringkali, saat awan pembentuk halo kecil atau tidak merat, hanya potongan-potongan busur yang terlihat.

Seperti semua lingkaran cahaya, itu bisa disebabkan oleh matahari dan juga (tetapi jauh lebih jarang) Bulan.

Seberap sering busur circumhorizontal terlihat, tergantung pada lokasi dan garis lintang pengamat.

Di Amerika Serikat itu adalah halo yang relatif umum, terlihat beberapa kali setiap musim panas di satu tempat.

Sebaiknya, itu adalah fenomena langka di Eropa utara karena beberapa alasan.

Terle[as dari keberadaan awan yang mengandung es di posisi yang tepat di langit, lingkaran cahaya mensyaratkan bahwa sumber cahaya (Matahari atau Bulan) sangat tinggi dilangit, pada ketinggian 58 derajat atau lebih.

Ini berati bahwa variasi matahari dari halo tidak mungkin dilihat di lokasi utara 55 derajat LU atau selatan 55 dengan S.

Busur circumhorizontal bulan mungkin terlihat lintang lain, namun jauh lebih jarang karena membutuhkan bulan yang hampir penuh untuk menghasilkan cahaya yang cukup.