Home NASIONAL Kisah Anggota PKI yang Tewas Karena Ucapan Satu Kata Ini

Kisah Anggota PKI yang Tewas Karena Ucapan Satu Kata Ini

26
0
Kisah Anggota PKI yang Tewas Karena Ucapan Satu Kata Ini

Indozola – Penumpasan Patai Komunis Indonesia (PKI) puluhan tahun silam diwarnai dengan rangkaian peristiwa tak masuk akal atau mistis.

Satu diantaranya , peristiwa aneh ketika anggota TNI melaksanakan eksekusi mati anggota PKI di Kabupaten Blora Jawa Tengah.

Sebab saat di eksekusi salah satu anggota PKI tak mempan ditembak.

Setelah PKI melakukan pemberontakan yang pertama, pemerintah mengerakan TNI untuk memberantasnya.

Salah satunya adalah TNI dari Divisi Siliwangi yang mendapat tugas untuk menggulung kekuatan PKI di Madiun dan sekitarnya.

Divisi Siliwangi lantas memburu semua simpatisan PKI di Madiun, dan pada 30 September 1948, Madiun berhasil dikuasai lagi oleh TNI.

Mengulik buku ” Pemerintah Presiden Sukarno; Rebut Kembal Madiun ‘ sayap PKI yakni Front Demokratik Rakyat (FDR) juga di tumpas oleh divisi Siliwangi.

Para simpatisan PKI itu lari dan sembunyi di daerah-daerah sekitar Madiun, tapi tetapp saja mereka berhasil ditangkap oleh TNI dan diadili.

Gerakan Divisi Siliwangi dilanjutkan ke Blora, sebab anggota PKI pelarian dari Madiun banyak bersembunyi disana.

Ada suatu peristiwa aneh dan diluar nalar saat Batalyon Kala Hitam Divisi Siliwangi mendapati seorang anggota PKI yang tertangkap.

Anggota PKI itu sma sekali tak menunjukan rasa takut, padahal, ia tengah menjalani proses eksekusi mati.

Di tengah alun-alun Blora, tawanan tersebut ditembak tepat dikeningnya, namun ia tidak mati.

Mandapati hal ini membuat Mayor idris yang kala itu menjabat Komandan Batalyon Kala Hitam ini bingung.

Seorang Komandan peleton (Danton), anak buah Mayor Kemal Idris, lantas bertanya.

“Ada apa Mayor?”

“itu tawanan minta mati,” tukas Kemal

Danton tersebut lalu mengambil pistol dan mengarahkannya kepada si tawanan, ia kemudian menempelkan pisto itu tepat di kening tawanan tersebut.

“klik-klik”

Pistol sama sekali tidak bisa meletus, padahal peluru masih penuh.

Dua kali Danton mengulanginya, namun hasilnya tetap sama, pistol itu tidak mau menyalak.

“Kamu punya ilmu ya?” tanya sang Deton.

“Tidak..”seloroh anggota PKI yang menjadi tawanan tersebut.

Kali ini pistol dikokang dan ditempelkan ke kening tawanan.

Pelatuk ditarik dan Dorr!

Kemudian tawanan terjengkang ke belakang langsung roboh mati.

“Tak disangka jawaban “Tidak ” merupakan kunci pelepasan ilmu kebalnya dari sang tawanan sehoiingga dia mati sesuai permintaannya…” ungkap Mayjen TNI (Purn) Rachwono yang ikut dalam Batalyon Kala Hitam saat menumpas sisa-sisa kekuatan PKI Madiun seperti yang dikulik dalam dokumen pribadinya.

Pasukan Kopassus juga pernah mengalami hal serupa ketika diterjunkan untuk membasmi salah satu simpatisan PKI yang terkenal sebagai dukun

Ini kisah diambil dari buku “Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando” Karya Hendro Subroto, Kopassus terpaksa m,enggunakan cara kekerasan untuk menghentikan dukun PKI itu.

Yang kita ketahui setelah berkobarnya tragedi G30S/PKI yang menculik para Jendral pada 30 September 1965, memang berbuntut panjang.

Salah satunya adalah perburuan terhadap mereka yang dianggapo sebagai anggota maupun simpatisan PKI.

Penumpasan dan penangkapan itu dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia yang diduga sebagai basis PKI.

Kala itu tahun 1967, perburuan terhadap simpatisan dan anggota PKI dilakukan di kawasan yang terkletak antara Cepu dan Ngawi.

Kopassus hendak menagkap simpatisan PKI yang bernama Mulyono Surodihajo alisa mbak Suro.

Mbah Suro adalah seorang mantan lurah yang dibebastugaskan akibat kesalahannya sendiri.

Setelah takmenjabat lagi sebagai lurah, mbak Suro membuka praktik sebagai dukun yang mengbati orang sakit.

tapi, belakangan beredar informasi kalau Mbah Suro juga dikenal sebagai dukun kebal, hingga ia disebut sebagai Mbah Suro atau Pandito Gunung Kendheng.

Pergantian nama baru menjadi Mbak Suro juga diikuti sengan perubahan penampiannya seperti memelihara kumis tebal. dan rambut panjang.

Selain melakukan berbagai kegiatan yang berbau klenik, Mbak Suro juga menyebarkan kepercayaan Djawa Dipa.

Mbah Suro juga sering memberi jampi-jampi atau mantera dan air kekebalan kepada para pengikutnya.

Banyak muridnya yang percaya diri mereka telah menjadi kebal terhadap senjata tajam dan senjata api.

Panglima Kodam VII/Diponegoro yang melihat Mbah Suro telah ditunggangi oleh PKI kemudian memerintahkan untuk menutup padepokan tersebut.

Menurut Hendro, penutupan itu terppaksa dilakukan melalui jalan kekerasan.

“Pangdam terpaksa memerintahkan agar penutupan dilakukan dengan jalan kekerasan, karena segala upaya jalan damai yang ditempuh telah menemui jalan buntu,” tulis Hendro dalam bukunya.

Pada akhirnya, Kodam VII/Diponegoro berseta satu kompi RPKD yang sekarang Kopassus dibawah pimpinan Feisal Tanjung menyerbu padepokan Mbah Suro.

Dalam penyerbuan itu akhirnya Mbah Suro berhasil ditaklukkan