Home NASIONAL Polisi Bongkar Praktik Penyebaran Konten Pornografi Via Line, 3 Orang Ditangkap

Polisi Bongkar Praktik Penyebaran Konten Pornografi Via Line, 3 Orang Ditangkap

16
0

Polisi Bongkar Praktik Penyebaran Konten Pornografi Via Line, 3 Orang Ditangkap – Polres Metro Jakarta Barat ungkap praktik penyebaran konten pornografi lewat aplikasi Line. Dalam kasus tersebut, polisi berhasil mengamankan tiga pelaku.

Kapolres Jaksel Kombes Audie S Latuheru, Senin (10/8/2020) mengatakan polisi menangkap tiga orang beinisial S, DW, dan RS yang merupakan admin pengelola grup Line itu.

Audie mengatakan ketiga tersangka menjual konten pornografi lewat tiga akun Line yang dikelola oleh ketiga tersangka itu.

Audie menjelaskan jadi mereka menggunakan akun medsos Line yang berjumlah ada tiga, yaitu akun Line ‘Official ABG’, lalu akun Line ‘VIP Yujiz’, dan akun Line ‘Brazzer VIPi. Semuanya dikelola oleh tiga tersangka itu.

Audie mengatakan grup Line yang terbangun sejak Agustus 2019 itu sekarang sudah mempunyai sekitar 600 anggota. Dia menyebut para pelaku mencari pelanggan mayoritas dari Twitter.

Bagi yang bersedia untuk bergabung dalam grup Line itu lalu dimintai sejumlah uang agar dapat menikmati konten pornografi itu.

Audie menjelaskan jadi para pelaku mencari pelanggan dari Twitter, dan akun medsos lain seperti WhatsApp, Line, untuk diajak bergabung dalam akun asusila mereka dengan membayar sejumlah uang. Dengan begitu pelanggan bisa memiliki akses tontonan pertunjukan seks.

Audie menambahkan seperti misalnya ‘Tiger Show’, merupakan hubungan badan antara dua orang pria dan wanita, yang dipertujunkkan secara live di medsos dengan membayar sejumlah uang. Atau bisa juga dengan membayar sejumlah uang tertentu, mereka bisa menyaksikan pertunjukan live telanjang.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, Kompol Teuku Arsya Khadafi mengatakan polisi juga turut mengamankan seorang anak perempuan yang masih di bawah umur yang dijadikan sebagai model dalam konten pornografi tersebut.

Menurut Undang-Undang Perlindungan Anak dan Perempuan, pertunjukkan yang masih di bawah umur akan kami lakukan diversi. Mengingat usianya yang masih dini dan berstatus pelajar, kemungkinan anak itu akan kami kembalikan ke orang tuanya yang sebelumnya akan dididik lebih dulu di pondok pesantren.

Atas perbuatannya, para pelaku dijerat Pasal 45 Ayat (1) juncto Pasal 27 Ayat (1) UU RI No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No 11 Tahun 2008 tentang ITE. Dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara.