Home NASIONAL Tilas Sejarah Kereta Api di Sumatera Utara, Awalnya untuk Angkut Panen Tembakau

Tilas Sejarah Kereta Api di Sumatera Utara, Awalnya untuk Angkut Panen Tembakau

9
0
Tilas Sejarah Kereta Api di Sumatera Utara, Awalnya untuk Angkut Panen Tembakau

Indozola – Sumatera Timur yang kini kawasannya masuk cakupan Provinsi Sumatera Utara merupakan wilayah subur penghasil tembakau yang tersohor.

Pada 24 Desember 1866 perusahaan tembakau yang cukup terkenal ialah Deli Maatschappij.

Untuk melancarkan pengangkutan tembakau, Deli Maatschappij membangun jaringan kereta api.

Gagasan tersebut muncul dari Mr Cremer seorang manajer Deli Maatschappij. Jalur awal yang dibangun meliputi Belawan-Medan-Deli Tua-Timbang Langkat (Binjai) pada 23 januari 1883, sepanjang 55 Km menggunakan lebar jalur 1067 mm.

Untuk mempermudah pengoperasiannya dibentuk perusahaan baru Deli Spoorweg Maatschapijj (DSM) yang fokus dalam bisnis pengangkutan menggunakan kereta api. Mr. Cremer ditunjuk sebagai Kepala Direktur DSM yang pertama.

DSM merupakan satu-satunya perusahaan kereta api swasta di Sumatera. Dalam perkembangan, DSM mulai melebarkan sayap dengan membangun jalur-jalur baru. Lintas Serdang-Perbaungan-Serdang-Hulu dibangun pada tahun 1888. Selang setahun, jalur sepanjang 68 Km tersebut berhasil dirampungkan.

Selanjutnya, pada tahun 1900 sibuk jalur kereta api Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu pada tahun 1900 guna pengangkutan minyak. DSM pun membangun jalur cabang dari Lubuk Pakan ke Bangun Purba. Dari Perbaungan, DSM meneruskan pembangunan menuju Tebing-Tinggi dan Pemantang Siantar.

Untuk jalur Labuhan Deli – Medan – Belawan dibangun pada tahun 1886-1888 sepanjang 23 Km. Medan – Kampung Baru – Deli Tua – Batu Gemak dibangun tahun 1887 dan panjang 14 Km. Medan – Binjai dibangun pada 1887 dengan panjang 21 Km, sementara Medan – Serdang Badai – Bambang dibangun pada 1889-1902 dengan panjang 38 Km.

Setelah itu, Binjai-Selesai-Kwala dibangun pada 1890-1902 dengan panjang 21 Km. Bamban – Rantau Laban – Kisaran – Tanjung Balai, – Teluk Nikung dibangun 1903 -1919 dengan panjang 141 Km. Binjai – Stabat – Tanjung Pura – Pangkalan Brandan – Besitang dibangun pada 1903-1919 dengan panjang 81 Km. Lubuk Pakam dan Bangun Purba 1904 dengan panjang 28 Km.

lalu Kampung Baru – Pancut Batu dibangun 1907 dan panjang 15 KM. kemudian, Tebing Tinggi – Dolok Merangir – Pemantang Siantar dibangun pada tahun 1916 dengan panjang 48 Km. Untuk Besitang – Pangkalan Susu dibangun pada 1921 dengan panjang 10 Km. Selanjutnya Kisaran – Membang Muda – Merbau pada tahun 1929 – 1931 dengan panjang 101 Km. Terakhir Merbau – Rantau Prapat dibangun pada tahun 1937 dengan panjang 13 Km.

Pada awalnya, kereta api di DSM diperuntukan guna pengangkutan komoditas sepeti, tembakau, karet, dan teh. Baru pada tahun 1886 DSM mulai membuka jaringan kereta api untuk penumpang dengan tarif 3,5 sen per kilometer per orang. Umumnya, para penumpang merupakan kuli perkebunan keturunan China dan Jawa. Kemudian, sisanya berasal dari penumpang Eropa.

Sebagai gambaran, pada tahun 1904 jumlah penumpang SDM sebesar 4 juta orang, meningkat menjadi 7 juta pada tahun 1927. Semasa penduduk Jepang, perkeretaapian di Sumatera dibagi menjadi tiga bagian dibawah kekuasaan Angkatan Darat Jepang.

Ketiga wilayah tersebut ialah Kito Sumatera Tetsuda (wilayah Aceh dan Sumatera Utara), kedua Seibu Sumatora Tetsudo (Wilayah Sumatera Barat), dan Bambu Sumatora Tersudo (wilayah Sumatera Selatan). DSM dilebur bersama perusahaan kereta api negara Atceh Stoomtram Staatssporwegen (ASS) menjadi Kito Sumatora Tetsuda.

Pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia, pegawai kereta api serta pejuang mengambil alih perkeretaapian di Jawa dan Sumatera dari tangan Jepang. Puncaknya, pada 28 September 1945 Balai Besar Bandung (Kantor Pusat PT KAI) berhasil menduduki. Pengambil alihan DSM sendiri dilakukan pada 3 Oktober 1945. Tidak lama kemudian, dibentuklah Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) Eksploitasi Sumatera Utara.

Penguasaan jaringan kereta api di Sumatera Utara oleh DKARI hanya berselang sampai agresi militer I pada juli 1947. Tragedi tersebut memaksa jaringan kereta api di Sumatera Utara dioperasikan kembali oleh DSM.

Lalu pada tahun 1963, DSM menjadi milik Indonesia secara de facto dan de jare setelah dilaksanakan nasionalisasi kerusakan Belanda. Eks DSM beserta seluruh karyawannha digabung dalam Djawatan Kereta Api (DKA), menjadi bagian dari DKA Eksploitasi Sumatera Utara.